Rabu, 07 September 2011

TETEWATU, JEMBATAN ALTERNATIF SOLUSI PENINGKATAN PAD TONDEI SATU

oleh:
Iswan Sual, S.S
[Sebuah Catatan Laporan Perjalanan]

Kira-kira pukul 10.30 rombongan Pemuda GMIM “Bukit Moria” Tondei Satu meninggalkan desa Tondei Satu menuju ke Tetewatu. Umumnya kami pergi dengan berjalan kaki alias naik mobil debe 11. Dengan langkah santai kami melewati jalan berbecek yang ditinggalkan begitu saja oleh pekerja-pekerja proyek. Garis-garis garukan nan rapih eskavator, yang membentuk dinding sisi atas jalan, tak terelakan kami perhatikan seraya berharap supaya proses penyelesaian proyek itu dipercepat.
Setelah menapaki jengkal demi jengkal tanah yang begitu lapang, sampailah kami di Lumopa atau sering disebut juga Lopa’na. Rumah-rumah panggung menjadi mayoritas di dusun 5 itu. Tampak sudah ada 3 rumah mewah berdiri tegak. Yang kami jumpai pertama adalah rumah besar berlantai 2 milik mantan Hukum Tua K. Lumapow. Rumah berlantai 2 yang kedua dan ketiga (saling berhadapan) adalah milik dari 2 orang bernama sama. San, nama mereka. Yang satunya bermarga Limpele dan satunya lagi bermarga Lumowa. Dua marga yang cukup fenomenal di Tondei Raya. Dua marga itu melahirkan tokoh-tokoh masyarakat yang cukup berpengaruh dalam peradaban di desa Tondei Raya. Beberapa langkah dari dua rumah besar dengan motif modern itu adalah persimpangan jalan. Yang satu menuju Ongkau dan satunya lagi menuju Tiniawangko. Rombongan jalan di sebelah kanan, jalan menuju ke Tiniawangko. Perjalanan rombongan menjadi tersendat-sendat karena kami saling menunggu anggota yang lain yang masih di garis belakang. Yang bersepeda motor telah mendahului yang berjalan kaki. Kami bersepakat ditunggu di Pa’gula’angnya Epong Gerung.
Pekikan khas orang Tondei terdengar keluar dari mulut para pria yang sengaja dikeluarkan untuk membuat suasana menjadi ramai dan bersemangat. Kami menikmati pemandangan rentetan pohon kelapa dan cengkih di pinggir jalan yang kami lewati. Kami menyadari bahwa ternyata Tondei memiliki kekayaan yang berlimpah.
Sang pemimpin rombongan berkata pada rekan-rekannya bahwa sebenarnya yang menjadi salah satu tujuan dari perjalanan kami ke Tetewatu adalah untuk membuat para orang muda insaf akan potensi alamnya dan mengetahui letak dan batas-batas tanah yang telah dikerjakan oleh para leluhur ratusan tahun lampau. Tujuan perjalanan lainnya adalah membuat kita lebih mengenal keadaan dari tanah yang menjadi milik orang Tondei untuk memberitahu kepada kita bahwa orang tua kita dulunya adalah pekerja keras sehingga mampun merombak hutan untuk lahan pertanian demi masa depan anak-cucunya.
Kami melewati beberapa anak sungai dengan nama Kaluntai, Ranotelu dan sungai kecil bernama Tetewatu dan Punti. Namun tujuan kami adalah situs alami yang disebut Tetewatu. Kami harus mengambil jalan memutar melewati perkebunan Aser dan Pilar. Kami harus menuruni lereng yang terjal dan berjalan mengikuti aliran sungai sehingga tak jarang kami terpeleset, tertusuk duri dan terpukul pada batu-batu kuala. Awalnya kami merasa telah mengambil jalan yang salah dan tersesat sehingga wajah-wajah anggota rombongan mulai nampak kecewa dan menyalahkan si Aldi (Ading) Gerung yang bertindak sebagai penunjuk jalan. Butuh setengah jam untuk menyusuri sungai Tetewatu hingga sampai ke situs yang kami tuju. Badan kami yang basah kuyub oleh guyuran hujan dan percikan air saat kami tercemplung dalam genangan yang dalam tidak menghalangi kerinduan kami melihat situs yang ditemukan pertama kali oleh pemburu katak dan udang tersebut. Senyum mulai terlihat di sudut bibir kami ketika melihat situs yang menyerupai pintu gerbang sungai itu. Ya itulah yang disebut Tetewatu. Ternyata situs itu memang cocok dinamakan Tetewatu karena diantara dua dinding batu bagian atas terdapat balok batu yang lempar yang membentuk seperti seperti konstruksi jembatan. Perkebunan Punti dan Pilar yang dipisahkan oleh aliran sungai dihubungkan oleh balok batu itu. Orang dari arah Punti bisa menyeberang ke perkebunan pilar tanpa harus basah karena terkena air sungai. Gejala alam itu sungguh luar biasa.
Menurutku, Tetewatu tercipta oleh dorongan aliran air sudah berlangsung sangat lama. Menurut teoriku, dahulunya jarak antara dinding yang satu dengan dinding di sisi lain tidak selebar sekarang. Kini lebarnya cukup untuk sebuah mobil memasukinya semisal aliran itu adalah jalan. Tinggi dindinyapun tidak setinggi sekarang. Dulu, pasti air mengalir di atas balok batu yang melintang itu. Karena erosi, bagian bawah balok batu itu menjadi berlubang semakin lama semakin membesar. Tentu proses itu memakan waktu yang lama dengan deras air yang kuat.
Fenomena alam yang unik itu membuat orang takjub. Situs alam yang bernama Tetewatu itu bisa menambah perbendaharaan situs bernilai di desa bahkan di kabupaten Minahasa Selatan. Situs ini bisa menjadi tujuan wisata alternatif. Umumnya pantai selalu menjadi tujuan wisatawan. Bagi yang sudah bosan dengan yang berbau pantai dan ingin menikmati suasana baru di pegunungan, maka Tetewatu adalah tempatnya.
Saya sarankan agar pihak yang berkompeten berupaya membuat agar akses ke situs ini menjadi mudah. Minimal, jalan orang dibuat sehingga semakin mempermuda pula orang untuk sampai ke situs alam itu.

Tidak ada komentar: